OPINI I "PESAN IEDUL ADHA dan SPIRIT MEMBANGUN BANGSA"

29 Juni 2023
Administrator
Dibaca 706 Kali

PESAN IEDUL ADHA dan SPIRIT MEMBANGUN BANGSA *

*Penulis: Suhaidi Edy (Kepala Desa Darmaji, Kecamatan Kopang Lombok Tengah, NTB)

 

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata “ Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkan aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi maha Penyanyang.” (QS Ibrahim: 35-36).

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang hari-hari nya penuh nilai bagi semua ummat Islam. Sebagaimana bulan-bulan lain yang memiliki keistimewaan, Dzulhijjah juga sarat dengan nilai historis perjuangan untuk survive ditengah-tengah situasi dan kondisi yang cukup tidak menentu. Jika disebut tentang bulan Dzulhijjah, tidak bisa lepas dari peristiwa sejarah awal mula disyariatkannya ibadah qurban, yang bermula dari satu fase perjalanan sejarah hidup Nabi Ibrahim As beserta keluarga nya.

Nabi Ibrahim dan Keluarga nya sebagaimana para nabi dan rasul yang lain, perlu dinapaktilasi sebagai sebuah role model manusia yang diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk bertahan ditengah cobaan hidup yang demikian keras. Hingga dalam kitab suci Al-Qur’an nama Nabi Ibrahim disebut cukup sering oleh Allah SWT. Penulis tidak akan menguraikan secara detail bagaiman cerita panjang Nabi Ibrahim As serta keluarga dan kaumnya. Karena substansi yang ingin penulis sampaikan adalah spirit perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim As dan keluarganya sehingga bisa melahirkan sebuah bangsa dan peradaban yang mulia.

Bangsa yang dicita-citakan oleh Nabi Ibrahim As adalah bangsa yang kuat, yang ditandai dengan situasi yang  aman (dalam segala maknanya) dan kokoh dalam credo yang lurus (salimul aqidah). Apakah Nabi Ibrahim As dan keluarga nya serta para pengikutnya diberikan bangsa dan peradaban itu secara mudah? Ternyata tidak. Perjalanan Nabi Ibrahim As diwarnai dengan banyak ujian dan cobaan. Kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim benar-benar diuji, hingga pada akhirnya Allah SWT memberikannya sebuah bangsa yang kelak menjadi peradaban yang dicita-citakan.

Barangkali pada titik inilah kita mengambil ibrah bahwa untuk mewujudkan sebuah negara, wilayah, Provinsi, Kabupaten dan Desa yang aman dan tegak nilai-nilai kebenaran diatasnya, perlu syarat-syarat yang harus dipenuhi.

 

PESAN MORAL KISAH NABI IBRAHIM As UNTUK INDONESIA

Indonesia baru saja memasuki era new normal pasca pandemic covid-19 yang melanda  hampir tiga tahun. Pandemi itu seolah-olah meruntuhkan semangat berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak, selama masa pandemi Indonesia harus bertahan ditengah-tengah perekonomian global yang serba tidak menentu. Momentum new normal inilah sebagai titik awal untuk menghimpun spirit baru menuju Indonesia yang lebih kuat.

Paling tidak ada tiga pesan moral dan motivasi yang bisa diambil dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim As dan keluarganya untuk membangun Indonesia yang super power. Pertama, konsistensi ikhtiar. Saat Pandemi semua orang merasa tertekan. Pemerintah berusaha tegar, memberikan semangat kepada warganya. Namun, psikologis masyarakat terganggu. Semua hampir putus asa, namun disaat keputusasaan itu menggebu-gebu, ada saja alasan untuk bangkit.

Begitulah dahulu Siti hajar, istri dari Nabi Ibrahim As yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim As Bersama Ismail As putra kecilnya, harus bersusah payah sampai tujuh kali bolak balik berlari-lari kecil mencari air antara bukit shafa dan marwah, untuk mempertahankan hidupnya. Secara logika tidak mungkin ada mata air di tanah yang gersang dan tandus, namun Siti Hajar tidak ingin menghilangkan harapan, ikhtiar manusiawi tetap dilaksanakan. Hingga akhirnya Allah SWT intervensi dan menunjukkan keajaiban, percikan mata air justru muncul dari bawah kaki  bayi mungil, Nabi Ismail As.

Hingga sampai hari ini air sumur zam-zam itu dinikmati oleh manusia diseluruh dunia tanpa pernah habis, ditengah tanah yang gersang dan tandus muncul mata air. Sesuatu yang Ajaib. Pada titik tertentu, membangun sebuah negara ( termasuk didalamnya sebuah desa)  kadang harus diuji keseriusan dan konsistensi berikhtiarnya. Dari konsistensi  ikhtiar itulah bisa jadi muncul “keajaiban-keajaiban” yang bagi sebagian orang mungkin mustahil bisa diwujudkan. Negara kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kita hanya butuh konsistensi dalam ikhtiar, tidak berputus asa, selalu menyemai harapan, berbangga menjadi orang Indonesia, maka suatu hari kita akan menyaksikan bahwa sebuah negara seperti Indonesia akan muncul menjadi negara adi daya.

Seringkali kita menemukan ada sebuah desa yang membuat program/kebijakan yang menurut Sebagian orang kebijakan “gila” atau out of the box. Tapi belakangan hari desa itu menjelma menjadi desa percontohan, dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk belajar. Dengan konsistensi ikhtiar, sebuah bangsa bisa bangkit dengan kekuatan yang berlipat-lipat daripada yang ada sebelumnya.  

Kedua, pengorbanan yang ikhlas. Kalimat  yang sering sekali dilontarkan oleh banyak orang adalah ungkapan dari John F Kennedy.  “ Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu,tapi tanyakan, apa yang kau berikan untuk negara.” Patriotisme sudah mulai terkikis, harus selalu dedengung-dengungkan agar Kembali membara dihati masyarakat Indonesia, agar siap sedia berkontribusi apa saja untuk bangsa Indonesia. Nabi Ibrahim As menunjukkan pengorbanan yang ikhlas kepada Allah SWT, hingga Allah balas dengan kemuliaan. Demikian halnya pengorbanan yang ikhlas untuk bangsa, menghasilkan feedback kebaikan untuk semua.

Pengorbanan yang ikhlas bukan hanya tentang materi, tetapi dengan makna yang seluas-luasnya. Ladang untuk berkontribusi sangat luas. Hari ini terdapat kurang lebih 74.961 Desa, 8.506 Kelurahan dan 16.772 pulau di Indonesia yang menunggu sentuhan tangan, ide, gagasan dan kerja-kerja terampil anak-anak bangsa. Terdapat 8,42 juta penduduk Indonesia yang menjadi pengangguran, membutuhkan investasi dari pemilik modal dalam negeri sehingga lapangan kerja terbuka. Terdapat 8,71 juta unit UMKM yang perlu dibina oleh mentor-mentor handal di negeri ini, sehingga UMKM Indonesia bisa survive menjadi tulang punggung perekonomian bangsa. Sekali lagi, kuncinya adalah keikhlasan dalam berkorban dan berkontribusi. Sebagaimana keluarga besar Nabi Ibrahim As saling berbagi peran sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Ketiga adalah kolaborasi dan sinergi. Tidak mungkin sebuah negara bisa menjadi negara yang kuat jika hanya dikerjakan oleh segelintir orang atau kelompok tertentu saja. Kolaborasi dan sinergi adalah suatu yang mutlak. Sebuah peradaban yang besar tidak dihasilkan dari kerja-kerja individual. Sebagaimana Nabi Ibrahim As menghasilkan peradaban besar bangsa Arab dengan Kerjasama yang apik antara beliau, anak nya dan keluarga besarserta pengikut nya. Jika dipersempit ruang lingkupnya, maka membangun bangsa yang kuat dimulai dari membangun keluarga yang kuat. Salah satu indicator keluarg yang kuat adalah terbangunnya lingkungan yang kolaboratif dan sinergis. Mereka saling menguatkan untuk tujuan yang mulia.

“ Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." QS. As-Saffat Ayat 102

Sebuah pesan  kolaborasi dan sinergi yang sangat baik dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dan keluarganya. Bayangkan jika tidak ada kesamaan tujuan antar anggota keluarga yang satu dengan yang lain, atau tidak ada kesamaan tujuan antar semua stakeholders dalam membangun bangsa, maka cita-cita nasional yang telah dirumuskan oleh pendahulu bangsa ini akan pupus.

Pondasi dari ketiga pesan moral tersebut diatas adalah ketakwaan. Jika diibaratkan sebuah bangunan, ketakwaan adalah pondasinya dan ketiga pesan moral diatas adalah tembok, atap dan aksesoris keindahannya. Jika bangunan ini sudah tersusun, maka akan terwujud sebuah bangsa dengan peradaban yang gemilang.

“ dan jika masyarakat suatu negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah), maka kami akan bukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi… “ (QS Al-A’raf: 96).

Nabi-nabi tidak akan pernah terlahir setelah Nabi Muhammad SAW namun spirit perjuangan melahirkan peradaban yang maju sudah diwariskan kepada manusia yang di putuskan oleh Tuhan sebagai khalifatullah fil-ardh (wakil Allah di muka bumi). Selamat merayakan Iedul Adha, bekorbanlah untuk bangsa, negara dan desa-desa yang kita cintai.